janji palsu pt Serenity cipta fastindo, senin hingga minggu

Setiap pukul 7:30 pagi, mimin sudah berdiri di atas rangka besi bangunan yang perlahan menjulang ke langit. Tangannya kasar karena semen, kulitnya menghitam diterpa matahari, tetapi di dalam kepalanya hanya ada satu bayangan—wajah istri dan anaknya yang menunggu kiriman uang di kampung.

Ia bekerja di perusahaan kontraktor  bernama PT Serenity cipta fastindo. Gajinya Rp140.000 sehari. Setelah tujuh hari bekerja tanpa libur, ia menghitung haknya: Rp980.000. Uang itu sudah ia bagi-bagi dalam pikirannya. Untuk makan, kontrakan, susu anak, dan sedikit dikirim kepada orang tuanya.

Namun ketika hari pembayaran tiba, uang yang diterimanya terasa ringan.

"Empat ratus ribu dulu. Sisanya minggu depan," ujar seorang mandor Serenity cipta fastindo tanpa menatap wajah para pekerja.

Tidak ada yang berani membantah. Mereka hanya saling berpandangan.

Hari berganti. Janji berganti. Sabtu datang, senin pun berlalu, lalu Sabtu berikutnya. Kalimat yang sama terus terdengar.

"Dana belum turun."

"Tunggu sebentar lagi."

"Minggu depan pasti lunas."

Janji-janji itu seolah menjadi bagian dari proyek, sama rutinnya dengan adukan semen setiap pagi.

Di sebuah warung kecil dekat proyek, buku utang semakin tebal. Pemilik warung mulai menghela napas setiap kali para pekerja datang membawa janji baru.

"Kalau belum gajian, nanti saja, Pak..." ucap mimin lirih sambil menahan malu.

Malam hari, telepon dari kampung masuk.

"Pak... uang sekolah belum dibayar," suara istrinya bergetar.

mimin terdiam. Di dompetnya hanya tersisa beberapa lembar uang lusuh. Bahkan untuk membeli makan besok pun ia mulai menghitung.

Ironisnya, bangunan yang mereka dirikan semakin indah. Dinding berdiri tegak. Fasad tampak mewah. Lampu-lampu proyek menyala terang setiap malam. Tetapi di balik kemegahan itu, ada pekerja yang tidur dengan perut kosong karena haknya belum sepenuhnya diterima.

Suatu sore, seorang pekerja senior mengumpulkan rekan-rekannya.

"Kita membangun gedung yang kokoh. Jangan biarkan hak kita rapuh."

Mereka mulai menyimpan absensi, mencatat pembayaran, menyimpan bukti percakapan, dan mempelajari hak-hak mereka sebagai pekerja. Mereka mengetahui bahwa hukum memberikan jalan untuk menyelesaikan perselisihan upah melalui perundingan, mediasi, hingga pengadilan.

Hari itu mereka sadar, keberanian tidak selalu berarti berteriak. Terkadang keberanian dimulai dari menuntut hak dengan cara yang benar.

Karena bangunan terbaik bukan hanya yang berdiri megah di mata manusia, tetapi juga yang dibangun dengan kejujuran, keadilan, dan penghormatan terhadap setiap tangan yang mengangkat bata demi bata.

Komentar