Surat yang Selalu Dijanjikan PT Serenity Cipta Fastindo
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di proyek milik PT Serenity Cipta Fastindo, Momon hanya membawa sebuah tas lusuh, sepasang sepatu keselamatan, dan secarik kertas berisi nomor telepon istrinya di kampung.
Ia diterima bekerja tanpa banyak pertanyaan.
"Besok langsung masuk," kata mandor singkat.
"Kontrak kerjanya kapan, Pak?" tanya Momon.
"Nanti."
Jawaban itu terdengar ringan. Namun kata "nanti" terus mengikuti hari-harinya.
Setiap pagi sebelum matahari terbit, Momon sudah berdiri di atas tumpukan pasir. Ia mengaduk semen, memikul besi, dan membantu membangun rumah-rumah yang kelak dihuni orang lain. Bangunan semakin tinggi, tetapi kepastian mengenai status pekerjaannya tak pernah datang.
Beberapa pekerja baru berganti wajah setiap bulan. Mereka datang, bekerja, lalu pergi tanpa pernah benar-benar memahami status hubungan kerja mereka.
Suatu sore, hujan deras memaksa seluruh pekerja berteduh di bawah dak beton. Di sanalah seorang pekerja senior mengeluarkan map plastik berisi dokumen.
"Aku simpan semua surat kerjaku dari perusahaan lama," katanya.
Momon terdiam.
Ia sadar bahwa dirinya bahkan tidak memiliki satu lembar pun dokumen yang menjelaskan kapan mulai bekerja, berapa hak upahnya, bagaimana status pekerjaannya, atau kepada siapa ia harus mengadu jika terjadi perselisihan.
Beberapa hari kemudian, ia mengikuti penyuluhan ketenagakerjaan yang diadakan di balai desa. Dari sana ia mengetahui bahwa perjanjian kerja bukan sekadar formalitas. Dokumen tersebut menjadi dasar hubungan kerja yang memuat hak dan kewajiban pekerja maupun pemberi kerja, termasuk mengenai upah, masa kerja, jenis pekerjaan, jam kerja, dan mekanisme penyelesaian perselisihan. Ia juga belajar bahwa menyimpan bukti hubungan kerja—seperti absensi, slip pembayaran, atau komunikasi terkait pekerjaan—dapat menjadi penting apabila suatu saat timbul sengketa.
Sejak saat itu, Momon mulai mencatat setiap hari kerja di sebuah buku kecil. Ia memotret bukti pembayaran, menyimpan pesan singkat dari mandor, dan menuliskan tanggal-tanggal penting. Baginya, membangun gedung tidak lagi hanya soal menyusun bata, tetapi juga membangun kesadaran bahwa setiap pekerja berhak memahami hubungan kerjanya.
Gedung yang ia bangun akhirnya selesai. Orang-orang memuji keindahan fasadnya. Namun bagi Momon, pelajaran terbesar bukanlah cara memasang bata yang rapi, melainkan memahami bahwa pondasi hubungan kerja yang baik dimulai dari kejelasan, keterbukaan, dan penghormatan terhadap hak serta kewajiban kedua belah pihak.
Komentar
Posting Komentar